
Sabtu, 24 Januari 2025. Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan, K.H. Ahmad Najib Amin Hamam beserta jajaran direktur KMI, ustadz Muhammad Mudzakir, M.Ag. dan ustadz Ahmad Zabidi, S.H.I., menghadiri acara “Seminar Nasional FKPM & Munas FPAG” yang diselenggarakan di Pondok Pesantren MTA Karanganyar.
Acara tersebut turut dihadiri oleh beberapa tokoh penting. Di antaranya, Dr. H. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., (Wakil Menteri Agama RI), Dr. H. Basnang Said, M.Ag., (Direktur Pesantren Kementerian Agama RI), K.H. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), K.H. Luqman Harits Dimyathi (Pengasuh Pondok Tremas Pacitan), dan banyak juga tokoh masyarakat serta pejabat pemerintahan lainnya yang turut hadir dalam acara tersebut.
Maksud dari penyelenggaraan acara tersebut, di antaranya adalah untuk menyamakan suara terkait arah dan kualitas pendidikan pesantren, serta mengulas arti pesantren bagi Indonesia. Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil., (Rektor Universitas Darussalam Gontor) dalam pidatonya menekankan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia, yang sudah berdiri jauh sebelum sekolah-sekolah bentukan Belanda seperti Europeesche Lagere School (ELS), Hollandsch-Inlandsche School (HIS), maupun Volkschool. Hal serupa juga diperkuat oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal.
Dalam kesempatan tersebut juga diungkap bahwa pesantren sejak awal sudah merumuskan sebuah sistem pendidikan yang bersifat holistik. Pendidikan holistik adalah pendidikan yang tidak hanya mengembangkan segi akademis siswanya saja, namun juga bakat-bakat lain yang setidaknya terpetakan dalam 8 tipe kecerdasan manusia yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Model pendidikan holistik semacam ini nyatanya diakui memiliki efektifitas dan peran yang jauh lebih besar bagi perkembangan siswa. Dan Pesantren di Indonesia sudah sejak awal menggunakan model pendidikan holistik yang dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Bapak Wakil Menteri juga mempertegas bahwa Pesantren adalah kawah Candradimuka bagi kader umat dan bangsa. Beliau juga mengingatkan
“Pesantren mu’adalah boleh setara, tetapi tidak boleh kehilangan ke-khas-annya. Jangan sampai diakui ijazahnya, tapi hilang ruh-nya. Modern sistemnya, tapi luntur adabnya. Canggih kurikulumnya, tapi kering keteladanannya. Karena kalau itu terjadi, maka pesantren hanya tinggal gedung pendidikan, bukan lagi gedung peradaban.”
Beliau juga menjelaskan bahwa salah satu alasan dibentuknya Direktorat Pesantren di Kemenag adalah sebagai wadah bagi pesantren. Yang mana pesantren tidak boleh berada di bawah Direktorat Pendidikan. Karena pesantren tidak hanya sekedar terdiri dari unsur pendidikan, namun juga dakwah dan pemberdayaan.
Pidato bapak Wakil Menteri ditutup dengan harapan beliau bahwa dari pertemuan tersebut akan lahir rekomendasi yang mencerahkan, kesepakatan yang menguatkan, serta tekad bersama untuk menjaga pesantren tetap menjadi mercusuar akhlak di tengah gelombang ancaman zaman.
Semoga pertemuan tersebut dapat menjadi berkah bagi setiap orang yang hadir di dalamnya, dan juga memberikan manfaat bagi seluruh pihak baik itu dari jajaran pemerintahan maupun seluruh pesantren yang terlibat. Khususnya bagi pondok kita tercinta, Pondok Pesantren Pabelan
