MAGELANG — Sabtu Pahing pagi, 12 September 2026, langit di atas Pondok Pesantren Pabelan, Mungkid, Magelang, terasa lebih teduh dari biasanya. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul 05.30 WIB ketika sebuah kabar duka berembus, menyelimuti kompleks pesantren dengan kesedihan yang mendalam. KH. Drs. Ahmad Mustofa, S.H., Pimpinan Pondok Pabelan, telah berpulang ke rahmatullah.

Namun, di balik duka yang menyelimuti para santri, terselip sebuah kisah kepulangan yang begitu indah dan dicemburui. Pagi itu, sang kiai wafat bukan di ranjang rumah sakit karena didera sakit sakratulmaut yang panjang. Beliau wafat tepat di tempat ia mendedikasikan sebagian besar umurnya: di hadapan para santri dan kitab suci.

Detik-Detik Akhir yang Syahdu

Usai menunaikan salat Subuh, KH. Ahmad Mustofa melangkah seperti biasa menuju tempat pengajian untuk mengajar santri kelas 6. Di hadapan para santri yang menyimak dengan takzim, sang kiai ingin memulai jalannya mengaji. Tidak ada tanda-tanda beliau sedang mengidap sakit parah pagi itu.

Hingga tiba-tiba, sebuah momen indah terjadi. Sang kiai mengambil satu kali tarikan nafas panjang. Dengan perlahan dan penuh ketenangan, kepala dan tubuah beliau dengan perlahan melorot dalam duduk tenangnya dengan meja ngaji di hadapannya. Tidak ada erangan kesakitan, tidak ada kepanikan yang lama. Dalam ketenangan fajar subuh itu, Allah SWT menjemput ruh sang ulama dengan begitu lembut, tepat saat beliau sedang menjalankan tugas mulia sebagai pewaris para nabi.

Kepergian yang begitu damai ini menjadi bukti nyata dari akhir kehidupan yang husnul khotimah—sebuah akhir yang diimpikan oleh setiap hamba beriman.

Pilar Sejarah dan Penjaga Nyala Api Pabelan

Lahir di Magelang pada 8 Agustus 1944, KH. Ahmad Mustofa adalah satu-satunya adik kandung dari pendiri Pondok Pondok Pabelan, KH. Hamam Dja’far. Sejak Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan didirikan pada 28 Agustus 1965, beliau berdiri berdampingan dengan sang kakak untuk membangun fondasi pesantren modern yang inklusif dan progresif di tanah Magelang.

Ketika KH. Hamam Dja’far wafat pada tahun 1993, KH. Ahmad Mustofa memikul amanah besar untuk menjaga nyala api pendidikan di Pabelan tetap hidup bersama Putra Kandung alm. KH. Hamam Ja’far yaitu KH. Ahmad Najib Amin Hamam dan KH. Muh. Balya. Di bawah bimbingan kepemimpinannya, Pondok Pabelan terus berkembang, mempertahankan prestasinya yang legendaris (seperti penghargaan arsitektur internasional Aga Khan Award), sambil tetap teguh melahirkan santri-santri yang berdaya guna bagi umat dan bangsa.

Sinergi Ulama dan Penegak Hukum

Hal yang membuat rekam jejak KH. Ahmad Mustofa begitu unik adalah keseimbangannya dalam menguasai hukum agama dan hukum negara. Setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1963), ia mendalami hukum Islam di Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta (lulus 1971). Tak berhenti di sana, ia melengkapi kepakarannya dengan meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.) dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1991.

Kombinasi keilmuan ini membawanya pada karier pengabdian yang panjang di dunia peradilan Indonesia:

  • 1976–1982: Mengabdi sebagai Hakim di Pengadilan Agama Magelang.
  • 1982–2002: Dipercaya menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama (PA) di beberapa wilayah strategis, termasuk Kebumen, Kendal, dan Kota Mungkid.
  • 2002–2008: Menuntaskan karier kedinasannya sebagai Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Agama Yogyakarta.

Meski memiliki rutinitas yang padat sebagai pejabat peradilan hukum negara, komitmen beliau terhadap para santri di Pondok Pabelan tidak pernah luntur sesenti pun.

Warisan Kebaikan yang Takkan Padam

KH. Ahmad Mustofa berpulang dengan meninggalkan seorang istri setia, Hj. Nunun Nuki Aminten, dengan keturunan (penerus estafet perjuangan kebaikan) beliau, yaitu:

  1. Ririn Suni Amarini (alm. wafat saat masih kecil)
  2. Muhammad Adi Sunata (alm)
  3. Muhammad Rosyid Budiman
  4. Muhammad Citradi
  5. Muhammad Ciptadi

Bagi ribuan alumnus dan santri yang pernah mereguk ilmu darinya, kepergian sang kiai meninggalkan ruang kosong yang teramat besar. Namun, pemandangan terakhir saat kepala beliau tersandar di atas meja ngaji subuh itu akan selalu membekas sebagai khotbah terakhir tanpa kata: bahwa pengabdian kepada ilmu dan agama adalah tugas yang dibawa hingga hembusan nafas terakhir.

Selamat jalan, Kyai… Selamat menghadap Sang Khalik. Tugasmu telah tunai dengan sangat sempurna.

Satu Tarikan Nafas di Atas Meja Ngaji: Mengenang KH. Ahmad Mustofa, S.H. dan Pengabdian Akhir yang Sempurna