Wafatnya K.H. Amal Fathullah pada 3 Januari 2026, menjadi duka mendalam bagi dunia pesantren. Beliau adalah sosok yang sepanjang hidupnya setia menjaga nilai, amanah, dan arah pendidikan pesantren.

​Beberapa waktu sebelum wafat, K.H. Amal Fathullah masih hadir dalam peringatan 60 Tahun Pondok Pesantren Pabelan, meski kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih.

“Kenapa saya harus datang?” ujarnya. Kini, kalimat itu terasa sebagai penegasan bahwa kehadiran beliau adalah bentuk kasih sayang, kesetiaan, dan tanggung jawab batin.

​Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan kedekatan keluarga beberapa pesantren: Tegalsari, Gontor, Tebuireng, Pabelan, dan Maskumambang. Beliau juga menekankan pentingnya pendidikan kader.

Bagi K.H. Amal Fathullah, keberhasilan pesantren tidak diukur dari kemegahan bangunan atau popularitas, melainkan dari alumni yang hadir sebagai manusia berkarakter dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Buku yang sebenarnya adalah murid-murid yang menjadi tokoh di masyarakat,” pesan beliau mengutip kalimat Kiai Mahmud Yunus.

​Beliau juga konsisten memperjuangkan muadalah sebagai wujud kejujuran sistem pendidikan pesantren yang memadukan pesantren ashriyah dan salafiyah. Beliau mengajarkan tasawuf yang aktif dan positif, bahwa seluruh aktivitas yang diridai Allah adalah ibadah. Kalimat ini sering kali disampaikan K.H. Hamam Dja’far kepada para santri, bahwa hidup ini tidak lain adalah untuk ibadah.

K.H. Amal Fathullah telah berpulang, namun nilai-nilai yang beliau wariskan tetap hidup. Semoga Allah SWT. menerima seluruh amal pengabdian beliau dan menguatkan kita untuk meneruskan jejaknya dengan menjaga amanah serta kesetiaan pada nilai.

Sugeng tindak, Kiai. 🙏

​Mengenang K.H. Amal Fathullah