Ada rasa haru dan bangga ketika Pondok Pabelan Magelang disebut sebagai salah satu perintis pondok alumni Gontor dan menerima 100 Tahun Gontor Award yang diserahkan pada hari Ahad, 20 September 2026 di sela-sela Peringatan 100 Tahun Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo.

Bersama Pabelan, penghargaan tersebut diberikan kepada sejumlah pesantren yang memiliki sejarah penting dalam pengembangan pendidikan pesantren alumni Gontor, antara lain Baitul Arqam Jember, Pondok Pesantren Walisongo Ngabar, Darunnajah Ulujami Jakarta, Al-Amin Prenduan Madura, dan Darul Qolam Gintung Tangerang Banten.

Award itu juga sekaligus menjadi sebuah penghargaan bagi Ulang Tahun Pondok Pabelan yang ke 65 pada tanggal 28 Agustus 2026 yang lalu. Ya, tahun ini Pondok Pabelan memasuki usia yang ke 65, suatu usia yang sudah cukup matang untuk sebuah perjalanan hidup.

Bagi alumni Pabelan, tentu saja penghargaan itu membahagiakan. Ada semacam pengakuan dari almamater terhadap sebuah perjalanan yang telah berlangsung puluhan tahun. Pabelan ternyata bukan sekadar nama dalam sejarah perjalanan para alumni Gontor. Ia menjadi bagian dari sejarah penyebaran gagasan pendidikan yang pernah dirintis di Gontor.

Dibalik rasa haru dan bangga itu, terselip sebuah pertanyaan tentang makna penghargaan itu bagi Pabelan dan para alumninya maupun bagi Gontor.

Sebab penghargaan sejarah akan kehilangan maknanya jika hanya untuk merajut nostalgia. Masa lalu penting, tetapi warisan pendidikan seharusnya menjadi energi untuk melahirkan sesuatu yang baru. Mungkin di situlah hubungan Pabelan dan Gontor menjadi menarik.

Gontor pun Pernah Belajar

Ada satu bagian dari sejarah Gontor yang menurut saya sangat penting untuk direnungkan. KH. Imam Zarkasyi, salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, pernah belajar di Sumatera Barat pada tahun 1930-an. Beliau belajar di Sumatera Thawalib Padang Panjang dan kemudian melanjutkan pendidikan di Normal Islam School yang dipimpin Mahmud Yunus.

Pengalaman itu ikut membentuk wawasan pendidikan beliau. Sepulang dari Sumatera, gagasan dan pengalaman tersebut tidak sekadar dibawa pulang sebagai kenangan. Ia diolah dan dikembangkan menjadi spirit pembaruan pendidikan di Gontor. Salah satu wujud pentingnya adalah lahirnya Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) pada 1937.

Di sini terdapat pelajaran yang sangat berharga. Ternyata Gontor menjadi besar bukan karena menutup diri dari pengaruh luar, tetapi justru karena berani belajar dari luar, mengolahnya, dan melahirkan sesuatu yang baru.

KH. Imam Zarkasyi tidak sekadar menyalin pengalaman Sumatera Thawalib atau Normal Islam School. Beliau belajar, menyerap, kemudian melakukan sintesis. Istilah sekarang itu ATM, yaitu Amati, Tiru dan Majukan. Ada proses kreativitas di sana. Maka mungkin salah satu DNA penting Gontor justru adalah tradisi belajar (tholabul Ilmi). Dan tradisi itu kemudian bergerak ke berbagai tempat melalui para alumninya. Berdasarkan data dari Forum Pesantren Alumni (FPA) Gontor tercatat sebanyak 380 pondok pesantren.

Ketika Menjadi Pabelan

Sebagai alumni Gontor, KH. Hamam Dja’far tentu membawa bekal nilai dan pengalaman pendidikan yang diperolehnya dari Gontor. Tetapi ketika mendirikan dan mengembangkan Pabelan, beliau tidak sekadar membuat “Gontor kecil” di Pabelan. Pabelan berkembang dengan karakter dan keberaniannya sendiri.

Salah satu yang pada zamannya cukup mengundang perhatian adalah keputusan KH. Hamam Dja’far menyelenggarakan pendidikan bagi santri putra dan putri dalam satu kompleks. Keduanya memang dipisahkan oleh jalan, dimana santri putra berada di sebelah utara dan santri putri di sebelah selatan. Tetapi secara kelembagaan, keduanya berada dalam lingkungan Pondok Pabelan.

Menurut KH. Hamam, di Pondok Pabelan tidak perlu ada tembok tinggi untuk batas antara santri putra dan santri putri, yang membatasi para santri adalah hati dan komitmen untuk belajar hidup.

Bagi ukuran pesantren pada masa itu, ini bukan keputusan sederhana. Sebuah langkah yang berani, bahkan memancing kontroversi.

Gontor sendiri hingga hari ini hanya membina santri putra. Kalaupun sekarang ada Gontor Putri, tetapi kampusnya berada jauh dari kampus putra, misalnya di Mantingan Ngawi.

Pabelan mengambil pilihan yang berbeda. Di sinilah kita melihat bahwa alumni bisa punya pilhan yang berbeda tidak mesti harus sama persis dengan almamater.

KH. Hamam Dja’far membawa spirit yang dipelajarinya dari Gontor, tetapi menerjemahkannya sesuai dengan konteks Pabelan. Ada kesinambungan, tetapi juga ada kreativitas. Ada warisan, tetapi juga ada pembaruan. Dan mungkin justru seperti itulah seharusnya sebuah tradisi pendidikan berkembang.

Pernah Membuat “Iri” Gontor

Pabelan kemudian mengalami salah satu periode yang sering dikenang sebagai masa keemasannya, terutama sekitar 1975–1980.

Pada masa itu, Pabelan bukan hanya berkembang sebagai lembaga pendidikan pesantren. Pabelan mendapatkan perhatian yang lebih luas. Pengakuan internasional datang melalui Aga Khan Award for Architecture. Setelah itu Pabelan juga memperoleh Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Konon, pada masa itu Pabelan telah membuat Gontor “iri”. Tentu bukan iri dalam pengertian persaingan antara guru dan murid. Kalau pun istilah itu dipakai, barangkali lebih tepat sebagai sebuah ungkapan kebanggaan, dimana murid yang dahulu belajar dari gurunya ternyata mampu mendapatkan perhatian dunia.

Dan bukankah itu sebenarnya sesuatu yang membahagiakan bagi seorang guru? Guru tentu tidak berharap muridnya selamanya berada di belakangnya. Guru berharap muridnya mampu berjalan dengan kaki sendiri. Ia dapat menemukan kekuatan dan identitas sendiri.

Keunikan Pabelan juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial tempat ia tumbuh. Pabelan berada di kawasan yang sangat kaya dengan keberagaman. Di sekitarnya terdapat Muntilan dengan tradisi Katolik yang kuat, Mendut dan Borobudur yang memiliki jejak sejarah Hindu-Buddha yang sangat penting, Mertoyudan dengan komunitas Kristen, serta Magelang dengan keberadaan Akademi Militer.

Dengan kata lain, Pabelan tumbuh bukan dalam ruang sosial yang homogen. Ia berada di tengah perjumpaan berbagai agama, kebudayaan, dan institusi.

Dalam konteks seperti itu, pesantren Pabelan tidak hanya menjadi tempat belajar agama di dalam kelas. Kehidupan sehari-hari di Pabelan menjadi semacam laboratorium sosial. Santri belajar bagaimana menjadi Muslim sekaligus hidup bersama masyarakat yang berbeda.

Maka Pabelan dapat dilihat bukan hanya sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan (Melting point). Pendidikan tidak berhenti pada kemampuan memahami teks. Pendidikan juga menyangkut kemampuan memahami manusia, masyarakat, lingkungan, dan realitas kehidupan.

Di sinilah mungkin salah satu makna penting pengalaman Pabelan dimana keislaman yang kuat tidak harus membuat seseorang menjadi tertutup. Sebaliknya, keyakinan yang kuat dapat menjadi modal untuk membangun hubungan yang baik dengan siapa pun.

Karena itu, penghargaan yang pernah diterima Pabelan tidak cukup dilihat sebagai daftar prestasi. Di balik penghargaan itu ada sebuah pengalaman panjang tentang bagaimana pesantren berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungannya.

Saling Belajar

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, kondisi  pesantren alumni Gontor tentu tidak sama. Ada yang tumbuh besar. Ada yang menemukan keunggulan tertentu. Ada yang sudah melampai antar generasi. Ada yang harus berjuang meningkatkan mutu guru, manajemen, pembiayaan, sarana, dan kualitas pembelajaran. Perbedaan tersebut adalah kenyataan sejarah.

Karena itu, hubungan Gontor dengan pesantren alumni perlu terus diperbarui.  Pesantren alumni harus terus berkembang sesuai dengan karakter masing-masing. Tidak harus seragam. Bahkan pengalaman mereka selama puluhan tahun bisa menjadi sumber pengetahuan baru bagi almamaternya.

Gontor tentu mempunyai pengalaman dan tradisi yang sangat panjang. Tetapi pesantren alumni juga memiliki pengalaman lapangan yang tidak sedikit. Mereka menghadapi masyarakat yang berbeda, persoalan yang berbeda, dan tantangan zaman yang berbeda.

Karena itu, hubungan Gontor dan alumni idealnya tidak hanya berupa hubungan genealogis, tetapi berkembang menjadi hubungan intelektual dan kebudayaan. Gontor memberi inspirasi. Alumni mengembangkan. Alumni menemukan pengalaman baru. Gontor dan alumni kemudian dapat saling belajar.

Bukankah ini justru sejalan dengan sejarah Gontor sendiri?

KH. Imam Zarkasyi belajar dari Sumatera Barat. Gontor lahir dari proses belajar dan pembaruan. Gontor kemudian melahirkan alumni yang mendirikan pesantren di berbagai tempat. Alumni itu pun mengembangkan pesantren sesuai dengan konteks masing-masing.

Jadi, tradisi yang diwariskan sesungguhnya bukan sekadar bentuk kelembagaan. Yang diwariskan justru adalah keberanian untuk terus belajar dan melakukan pembaruan.

Tantangan untuk Masa Depan

Bagi Pabelan, 100 Tahun Gontor Award selain merupakan sebuah kesyukuran dan kebanggaan,  namun juga merupakan tanggung jawab untuk masa depan.

Jika dahulu Pabelan menjadi salah satu perintis pondok alumni Gontor, maka apa yang akan dirintis oleh Pondok Pabelan untuk pendidikan di masa mendatang?

Dunia pendidikan telah berubah sangat cepat. Santri hari ini hidup di tengah kecerdasan buatan, perubahan teknologi, perubahan dunia kerja, persoalan lingkungan, tantangan sosial, dan masyarakat yang semakin terbuka. Pesantren tidak cukup hanya mempertahankan apa yang pernah berhasil pada masa lalu.

Pesantren Pabelan perlu terus belajar. Dan di sinilah kita kembali kepada pesan awal tulisan ini, yaitu Gontor, Pabelan, dan warisan yang mengajarkan kita untuk terus belajar.

Kalau Gontor pernah mengajarkan Pabelan untuk belajar, maka Pabelan akan mengajarkan bagaimana belajar yang sebaik mungkin. Belajar berarti memahami, mengolah, mengembangkan, dan kemudian berani melahirkan sesuatu yang baru.

Mungkin itulah makna terdalam sebuah penghargaan. Pabelan pernah menjadi bagian penting dari sejarah Gontor. Karena itu, tugas Pondok Pabelan sekarang untuk terus ikut “membela” masa depan umat, bangsa dan negara yang lebih baik. Karena Pabelan, ternyata berasal kata dari “bela”.

Tulisan oleh: Agus Sholeh
Alumni Pondok Pabelan Magelang (1976-1985)
agussholeh@yahoo.com

MAKNA GONTOR AWARD BAGI PONDOK PABELAN MAGELANG